Minggu, 16 September 2012

Angkutan Kota itu


Dinginnya udara malam begitu terasa menusuk tulang, apalagi saat itu hujun rintik-rintik mengguyur menambah kesan dingin malam itu. Beberapa pedangang kaki lima sudah siap sedia di tempat untuk menjajakan jualan mereka kepada para konsumen. Beberapa pasangan kekasihpun turut meramaikan malam itu. Namun, aku berdiri di sini sekarang bukan untuk membeli barang yang dijajakkan pedangan kaki lima. Tidak pula menunggu pasanganku untuk berkencan di malam yang dingin itu.
Kini akau sedang menunggu sebuah angkutan kota yang dapat membawaku pulang ke rumah. Sehingga aku dapat melepaskan semua lelah yang ada pada diriku karena seharian telah lelah bersekolah yang dilanjukan kerja kelompok di rumah teman serta les. Sudah satu jam aku berdiri di halte menunggu angkutan kota yang biasanya kami sebut angkot, namun tak satupun angkot lewat di depanku. Aku heran, apa hari ini hari nasional untuk para sopir angkot libur ya? Tapi seingatku tak ada hari libur nasional semacam itu.
“Ih, lama banget sih angkot lewat. Udah karatan nih.” Ujarku pada diriku sendiri untuk mengusir kesepian yang mulai mendera. Kegerak-gerakkan kakiku layaknya orang menjahit agar waktu terasa lebih cepat berjalan, namun sepertinya semua itu sia-sia saja. Aku memang sudah biasa pulang les pukul 19.00 WIB seperti ini, namun tak pernah selama ini aku menunggu angkot untuk ke dapat pulang kerumah.
“Huh! Gimana nih, pasti mama sama papa udah khawatir padaku. Mana batarai HP-ku habis lagi.” Ingin sekali aku menangis meronta-ronta meminta pertolongan agar ada seseorang yang mau mengantarkanku pulang ke rumah. Tapi aku sadar, aku akan dianggap orang gila bila menangis sendirian di malam hari seperti ini, bukannya pulang ke rumah malah ke rumah sakit jiwa nantinya. Oh Tuhan, kumohon datangkan angkot ke hadapanku.
“Neng, bakso?!” tanya seorang pedagang bakso mengagetkanku.
“Eh, ga pak.” jawabku dengan senyum masam.
“Angkot! Ada angkot!” seruku kegirangan begitu melihat angkot berwarna kuning yang merupakan angkot jurusan ke arah rumahku berhenti di halte tempatku menuggu. Tak ayal semua orang yang ada di sekelilingku memandangiku dengan tatapan sinis. Aku sih bersikap cuek saja, sekarang aku begitu bahagia angkot yang kutunggu-tunggu telah datang. Secepat kilat aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke angkot dan duduk di bangku yang ada.
“Hah, bahagianya. Dapat angkot juga.” aku menghela napas sejenak, bersyukur pada Tuhan karena telah diberikan angkot yang dapat mengatarkanku pulang ke rumah.
“Memangnya kenapa? Dari tadi ga dapat angkot ya?” tanya seseorang dengan suara yang serak-serak basah.
“Eh, iya mas.” jawabku spontan tanpa memandang wajah si pemilik suara.
“Jangan panggil mas dong, kesannya tua banget. Aku juga masih anak SMA sama kaya kamu.” sahut si suara serak basah itu.
“Oh ya.” akupun menjawab sambil memandang seseorang itu, memang benar katanya dia masih seumuran denganku, itu terlihat jelas dari seragamnya. “Kok kamu tau aku anak SMA, memang kita pernah ketemu sebelumnya?”
“Kita ga pernah ketemu kok sebelumnya. Aku tahu karena kamu pake seragam putih abu-abu. Itu seragamnya anak SMA bukan?”
“Oh iya.” Aku baru tersadar, semua orang akan tahu begitu melihat seragam yang kupakai, bahwa aku seorang murid SMA. Betapa bodohnya aku menanyakan hal itu. Akupun mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri. Sejenak kulihat si suara serak basah itu tersenyum melihat tingkahku ini. Ganteng juga, tuh cowok. Manis sih lebih tepatnya, mirip Adipati aktor muda yang muanisnya minta ampun ituloh. Wuih, manis banget nih cowok. Ujarku di dalam hati sambil memandangi cowok si suara serak basah itu.
“Kenapa liat aku kaya gitu? Naksir?” tanyanya menyadarkanku. Segera saja kupalingkan mukaku.
“Enggak. Kepedean banget sih.” jawabku cepat.
“Ya sudah.” Cowok itu serta merta berdiri dan turun dari angkot yang aku naiki. Kupandangi terus punggung tegap cowok si serak basah itu, sampai ia menghilang di persimpangan gang rumahnya.
***
Sesuai dugaanku, setibanya di rumah aku sudah ditunggu oleh kedua orang tuaku. Cemas dan takut jika anak perempuannya ini kenapa-kenapa terlihat jelas dari air muka mereka berdua. Begitu aku tiba di depan halaman rumah dan membuka pagar aku langsung dicecar berbagai macam pertanyaan oleh meraka berdua. Kujawab saja sejujurnya bahwa aku tak mendapatkan angkot selama satu jam lebih. Mendengar hal itu legalah hati mereka.
***
Pukul 19.10 WIB, aku masih menunggu angkot datang. Ya, karena semalaman aku tak bisa tidur karena memikirkan cowok serak basah aku berharap hari ini akan seangkot dengan dia lagi. Berkali-kali aku melihat ke ujung jalan untuk mengetahui apakah sudah ada angkot atau belum. Tak butuh waktu yang lama, tak seperti hari kemarin hari ini aku tak membutuhkan waktu berjam-jam untuk menunggu angkot yang setia mengatarku pulang, lima menit itulah waktu yang kubutuhkan. Angkot kuning berhenti tepat di depanku. Sejenak kuperhatikan angkot ini, inikan angkot yang kemarin, ah semoga saja ada cowok serak basah itu,aku bergumam dalam hati.
Kucecahkan kaki kananku ke dalam angkot terlebih dahulu, kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut dalam angkot untuk mengetahui apa cowok serak basah itu ada di dalam angkot yang kunaiki. Tertangkap oleh mataku, sosok yang membuatku tak bisa tidur tenang semalaman, ya si cowok serak basah! Ia duduk manis di pojokkan angkot. Ingin rasanya aku melompat-lompat kegirangan karena mendapati seseorang yang kuharapkan kehadirannya ada di depanku sekarang. Tapi itu tentu saja tak kulakukan, mengingat itu akan mempermalukan diriku sendiri. Tanpa banyak cincong aku segera mengambil tempat duduk tepat di sebelah dia. Tentu saja itu modusku agar dapat memandangi wajahnya yang manis nan rupawan itu.
“Eh, kamu yang kemarin kan?” tanya cowok serak basah itu begitu menyadari kehadiranku di sampingnya.
“Eh iya.” Akupun menjawab pertanyaannya dengan senyum terlebar yang aku punya. “Kebetulan sekali ya, kita bisa seangkot lagi.” Aku melanjutkan pembicaraan.
“Ya kau benar, kebetulan sekali.”
“Ehmm.. kalau aku boleh tahu kamu anak mana ya?” aku bertanya dengan maksud memperpanjang pembicaraa agar suaranya yang menurutku seksi itu dapat ku dengar terus.
“Untuk apa kau tau?” ucapnya dengan nada yang cuek. Ada rasa putus asa untuk dapat terus mendengar suaranya saat dia menjawab pertanyaanku dengan nada secuek itu, tapi aku bukanlah orang yang gampang menyerah.
“Pengen tahu aja, ga boleh ya?”
“Boleh kok, aku anak SMA Atha.” Jawabya kemudian sambil tersenyum. Itu dia senyum yang aku tunggu dari tadi! Senyum manisnya! Huah! Sepertinya sekarang aku melayang ke langit ketuju nih, kaya lagunya ADA BAND. “Kamu sendiri anak mana?” lanjut cowok serak basah itu.
“Eh, oh, ah, ak.. aku anak SMAN 5.” Aku begitu gugup saat dia bertanya padaku. Aku takut kalau dia tahu aku memandanginya.
“Hei kok gagap gitu sih? Kamu saudaraan ya sama si Aziz Gagap?”
“Ah enggak kok. Lagi gugup aja.” Ups! Kenapa aku ngomong seperti itu! Pasti dia akan bertanya mengapa aku gugup. Ah!
“Oh, kenalin namaku Celvin.” Cowok serak basah itu mengulurkan tanganya.
“Oh ya, aku Tirta.” Aku menyambut uluran tangannya.
“Baiklah, aku turun duluan ya. Udah sampai. Bye!” dia melambaikan tangannya ke arahku saat turun dari angkot.
“Bye!” akupun turut melambaikan tanganku padanya.
***
Sejak saat itulah entah disengaja atau tidak, aku selalu bertemu dengan Celvin di angkot kuning yang sama setiap aku pulang dari les. Tentu saja aku merasa aneh akan hal ini, kok bisa setiap kali naik angkot aku selalu seangkot dengan dia, dan angkotnya serta sopirnya pun sama. Tapi aku tak terlalu mempermasalahkan hal itu, yang penting aku dapat bertemu dengan Celvin pujaan hatiku.
Seperti biasa, hari ini aku menunggu angkot untuk pulang kerumah. Tak lama kemudian angkot kuning yang kutunggu datang. Kuedarkan pandanganku dan kutemukan orang yang kucari dengan mudah karena penumpangnya hanya tiga orang termasuk Celvin.
“Hai!” sapaku pada Celvin yang saat itu hanya duduk diam di pojokkan angkot. Tapi dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Aneh, tak biasanya Celvin pendiam seperti ini.
“Hai! Kamu saakit ya? Kok diam saja sih?” akupun menyapa Celvin lagi. Untunglah kali ini dia merespon sapaanku.
“Aku ga sakit kok.” Dia menjawab dengan senyum yang palin kusuka.
“Kamu serius? Wajah kamu pucat loh!” akupun memengang tangannya. “Tuhkan, tangan kamu juga dingin.”
“Tirta, aku mau ngomong sama kamu.” Ucap Celvin dengan nada yag serius.
“Ehm apa?”
“Aku cinta padamu. Dari awal kita bertemu, aku sudah mulai suka padamu, kemudian rasa suka itu tumbuh menjadi rasa cinta.” Ia menggenggam tanganku erat. “Apakah kau juga mencintaiku?” tanyanya dengan raut muka penuh harap.
“Ya, aku juga mencintaimu.” Aku menjawab pertanyaanya dengan senyum bahagia dan pipi yang merona merah. Lalu Celvin memelukku dan memberiku setangkai mawar merah padaku, sebelum pada akhirnya dia turun dari angkot karena sudah sampai di gang rumahnya.
Hari itu adalah hari terakhirku bertemu dengan Celvin. Aku merasa aneh sekaligus sedih. Apa maksudnya dia mengatakan kalau dia mencintaiku tapi pada akhirnya dia menghilang seperti ini. Hari ini seperti biasanya, aku menunggu angkot untuk pulang ke rumah di halte tempat biasa aku menunggu angkot. Hari ini aku berharap sekali dapat bertemu dengan Celvin. Angkot yang kutunggu tiba, namun semua harapanku sia-sia seseorang yang kuharapkan kehadirannya di angkot itu tak ada.
“Pak.” Aku memanggil supir angkot yang kunaiki.
“Ya neng.” Jawabnya lembut.
“Bapak tahu dengan cowok anak SMA yang sering duduk dipojokkan angkot ini?”
“Ya neng, dia teh tetangga bapak.”
“Berarti bapak kenal dia dong. Dia kemana ya pak, kok udah seminggu ga kelihatan?”
“Anu neng, dia teh udah meninggal seminggu  yang lalu.” Jawab bapak itu ragu-ragu.
“Hah! Ah bapak jangan bercanda deh pak. Bapak masa ga lihat sih? Iya, Sabtu malam dia naik angkot ini, dia duduk dipojokkan. Dia ngobrol kok sama aku. Dia bilang kalau dia suka dan cinta sama aku. Bapak jangan bohong deh pak!” aku berseru pada sopir angkot itu.
“Emh.. maaf neng, waktu itu bapak memang lihat eneng berbicara sendiri di belakang. Sampai-sampai penumpang yang lain saat itu menganggap eneng teh gila.” Ujar si bapak sambil tetap fokus menyetir angkot. “Celvin teh meninggal hari Sabtu siang minggu lalu di depan gang karena tertabrak mobil truk. Kasihan Celvin neng, dia meninggal dengan mengenaskan sambil memegang erat setangkai bunga mawar merah di tangannya.”
Tanpa panjang lebar lagi aku segera turun dari angkot dan berlari ke rumah. Sesampainya di kamar aku melihat vas bunga yang aku gunakan untuk menyimpan bunga mawar merah pemberian Celvin. Terlihat jelas di sana bahwa tak ada bunga mawar yang diberikan Celvin padaku. Aku hanya bisa terdiam mengingat akan kejadian seminggu yang lalu itu.

Sabtu, 08 September 2012

Review Film Step Up Revolution


Sebelum me-review, aku mau bilang makasih dulu sama temanku Ika sama Sheren. Cause, merekalah yang traktir untuk nonton film ini.
Hal pertama yang dilakukan sebelum menonton di 21 tentunya dalah beli karcisnya. Dengan terburu-buru karena takut terlambat, dapatlah karcisnya. Amin.



Oke, langsung kita mulai saja reviewnya. Film ini bercerita tentang sekelompok orang yang menamai diri mereka The Mob, hobi yang sama, dance telah menyatukan mereka. Kegiatan yang mereka lakukan adalah memberika kejutan kepada siapa saja di daerah mereka tinggal yaitu Miami dengan Mob mereka. Lalu mem-postingnya ke Youtube agar dapat memenangkan kontes yang ada.

Cerita berlanjut ketika Emily datang, cewek yang merupakan anak dari pengusaha kaya yang akan menghancurkan daerah pinggiran sungai yang sudah menjadi tempat nongkrong dan keluarga bagi The Mob. Emily yang tidak setuju dengan apa yang ayahnya lakukan melakukan pemberontakan dengan bergabung bersama Sean dan kawan-kawan. Tujuan lainnya adalah agar dia bisa mendapatkan inspirasi untuk dansa.


Awalnya memang semua berjalan lancar. The Mob menduduki urutan teratas si Youtube. Namun, karena kesalahpahaman semuanya jadi berantakan. Apakah semua akan kembali normal? Apakah cinta Sean ke Emily akan berlanjut? Mau tahu? nonton aja sendiri.

Film ini keren banget, terutama untuk dancenya total. Namun, coba jangan melihat film ini dari sisi pakaiannya yang seksi. Coba lihat dari sisi kreatifitas dan kekompakkan mereka agar tempat mereka tidak dihancurkan. Selamat menonton!!